Sore ini (Rabu 12/3), Pemimpin Revolusi Islam dalam pertemuan dengan ribuan mahasiswa dari seluruh negeri serta para aktivis organisasi politik, sosial, budaya, dan kelompok jihad mahasiswa, menyampaikan rekomendasi penting terkait evaluasi isu-isu dan penguatan identitas mahasiswa. Imam Ali Khamenei juga menjelaskan dua pengalaman berbeda yang dialami pemuda Iran dalam menghadapi Barat, dengan mengatakan: Pengalaman pertama berujung pada keterpurukan, sedangkan pengalaman kedua – yang kini menjadi arah pergerakan mahasiswa – berfokus pada pemahaman realitas Barat, semangat kemerdekaan, dan menjaga jarak dari problematika peradaban Barat.
Menolak Negosiasi dengan Amerika Serikat
Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa bernegosiasi dengan pemerintah AS saat ini tidak akan menghasilkan apa-apa, justru hanya semakin memperumit masalah sanksi. Beliau juga menyoroti upaya pemerintah AS dalam menipu opini publik global terkait negosiasi dan menekankan: Kami tidak mencari senjata nuklir. Jika kami menginginkannya, kami sudah membuatnya sejak lama. Selain itu, kami akan merespons dengan tegas terhadap setiap kemungkinan serangan.
Peran Pemuda dan Harapan Masa Depan
Pemimpin Revolusi menilai pidato para perwakilan organisasi mahasiswa sebagai tanda kemajuan, kedewasaan, serta peningkatan tingkat pemikiran, analisis, dan wawasan mereka, yang merupakan hal menggembirakan dan menjanjikan. Namun, beliau menambahkan: Saya tidak setuju dengan semua yang disampaikan mahasiswa dalam pertemuan ini. Misalnya, ada mahasiswa yang mengatakan bahwa aparat keamanan dan militer hanya menjadi penulis pernyataan dalam menghadapi rezim Zionis, padahal jika diteliti dengan baik, akan jelas bahwa anggapan ini tidak benar. Pihak yang bertanggung jawab telah menjalankan tugasnya pada waktunya.
Menanggapi pernyataan salah satu mahasiswa, Ayatullah Khamenei menegaskan kembali kepercayaannya kepada pemuda, dengan mengatakan: Saya masih mengandalkan para pemuda dan hanya berharap kepada mereka. Namun, syarat utamanya adalah mereka harus tetap teguh pada prinsip yang benar, bertahan dalam pendirian mereka, serta tidak goyah, ragu, atau menyimpang dari jalur utama saat menghadapi rintangan.
Beliau juga secara khusus meminta para pejabat Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Kesehatan untuk benar-benar memperhatikan serta menindaklanjuti isu-isu yang disampaikan oleh mahasiswa.
Keteguhan Kekuatan Front Perlawanan
Ayatullah Khamenei mengingat berbagai peristiwa penting tahun lalu dan menambahkan: “Pada hari-hari seperti ini tahun lalu, syahid Presiden Raisi, Sayid Hasan Nasrallah, Haniyah, Shafiuddin, Sinwar, Deif, dan beberapa tokoh revolusioner lainnya masih bersama kita, tetapi kini mereka telah tiada. Musuh mengira kita telah melemah karena kehilangan mereka. Namun, saya dengan yakin menegaskan bahwa meskipun kehilangan mereka adalah kerugian besar bagi kami, dalam banyak aspek, kami menjadi lebih kuat dibandingkan tahun lalu, dan dalam beberapa hal lainnya, kami tidak menjadi lebih lemah.”
Ia menjelaskan alasan keberlanjutan kekuatan Front Perlawanan, dengan menegaskan: Jika dua faktor utama, yaitu cita-cita dan usaha, ada dalam suatu bangsa atau kelompok, maka gerakan mereka tidak akan bisa dihentikan.
Pentingnya Ketakwaan dalam Kehidupan
Dalam bagian lain dari pidatonya, Ayatullah Khamenei mengutip ayat-ayat Alquran dan menegaskan bahwa tujuan utama berpuasa adalah untuk mencapai ketakwaan. Ia menjelaskan bahwa ketakwaan melindungi manusia dari berbagai keburukan, godaan, pikiran negatif, niat jahat, kefasikan, hawa nafsu, kelalaian terhadap tugas, dan meninggalkan kewajiban.
Ia juga menyoroti dua dampak utama dari ketakwaan, yaitu: membuka jalan keluar dalam kehidupan duniawi serta mendapatkan petunjuk Ilahi. Menurutnya, ketakwaan tidak hanya membawa keberkahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi dan keamanan, tetapi juga menjadi kunci untuk mencapai kebahagiaan, keselamatan, dan keberhasilan sejati di bawah bimbingan Ilahi.
Keteguhan Pribadi adalah Kunci untuk Mencapai Ketakwaan
Ayatullah Khamenei, menekankan bahwa tekad dan kehendak individu adalah syarat utama dalam mencapai ketakwaan. Ia mengutip Imam Khomeini yang menasihatkan bahwa untuk berjalan di jalur ketakwaan, seseorang harus mengambil keputusan yang tegas dan berani.
Dalam bagian utama pidatonya, Ayatullah Khamenei membahas identitas mahasiswa Iran dengan menjelaskan dua pengalaman berbeda yang dialami pemuda Iran dalam menghadapi Barat dan peradabannya. Beliau menegaskan bahwa pengalaman pertama mengarah pada kekaguman berlebihan dan kehilangan jati diri, sedangkan pengalaman kedua menghasilkan pemahaman yang lebih dalam terhadap peradaban Barat, sikap selektif dalam menerima realitas Barat, serta rasa independensi dan, dalam beberapa kasus, perbedaan mendasar yang mengarah pada pemisahan total dari Barat.
Dampak dari Keterpukauan terhadap Barat
Pemimpin Revolusi menjelaskan bahwa sekitar seratus tahun yang lalu, interaksi pertama pemuda Iran dengan Barat menanamkan konsep dikotomis: Barat maju, sedangkan Iran lemah dan terbelakang. Meskipun pada saat itu kesenjangan ini adalah kenyataan, seharusnya hal ini mendorong pencarian solusi dan perbaikan diri, bukan menyerah dan mengikuti Barat secara membabi buta.
Menurut Ayatullah Khamenei, sikap pasif terhadap kemajuan Barat menyebabkan kelalaian terhadap potensi bangsa Iran. Pengalaman tersebut seharusnya mengarah pada kesadaran diri, tetapi malah berakhir dalam keterpurukan dan kehilangan identitas. Beberapa pihak di dalam negeri bahkan memperburuk keadaan dengan mendorong masyarakat untuk meniru Barat secara total, terutama dalam aspek budaya dan moral, bukan dalam hal ilmu pengetahuan dan kerja keras—dua pilar utama kemajuan Barat.
Ia menyoroti sosok Reza Shah sebagai perwakilan dari westernisasi yang merusak dan menghancurkan. Inggris yang mengangkatnya ke tampuk kekuasaan akhirnya juga menyingkirkannya ketika kepentingan mereka berubah. Namun, selama masa pemerintahannya, ideologi bahwa Iran harus tunduk dan larut dalam Barat merasuk ke dalam benak masyarakat. Ini membuat negara kehilangan jati diri nasionalnya, baik dalam ekonomi, kebijakan dalam dan luar negeri, hingga gaya berpakaiannya.
Bangkitnya Kesadaran terhadap Realitas Barat
Ayatullah Khamenei menjelaskan bahwa pengalaman kedua dari keterlibatan Barat di Iran berasal dari berbagai peristiwa tragis, seperti pendudukan bagian-bagian negara oleh Inggris dan Rusia Tsar, kelaparan yang menyebabkan ribuan kematian, penindasan gerakan dalam negeri, serta perjanjian-perjanjian yang merugikan, seperti kontrak minyak Darcy di era Reza Shah. Semua peristiwa ini membuka mata masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap sifat asli Barat yang penuh dengan kepalsuan dan pengkhianatan di balik citra mereka yang tampak rapi dan bersahabat. Hal ini mengurangi daya tarik terhadap peradaban Barat di Iran.
Menurutnya, Gerakan Nasionalisasi Minyak menjadi titik balik dalam mengungkap wajah asli Barat. Ketika Mohammad Mosaddegh berusaha melawan Inggris dengan mengandalkan Amerika Serikat, justru Amerika yang mengkhianatinya dengan mendukung kudeta yang menggulingkan pemerintahannya menggunakan dana dan fasilitas mereka.
Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa kudeta 28 Murdad 1332 (19 Agustus 1953) membuktikan bahwa bergantung pada Barat bukanlah jalan menuju kemajuan, melainkan sebaliknya—menjadi penghalang bagi kemajuan. Kudeta ini juga menunjukkan bahwa Barat akan bertindak tanpa belas kasihan terhadap setiap gerakan yang bertentangan dengan kepentingan dan keserakahan mereka.
Ia mengaitkan peristiwa ini dengan bangkitnya gerakan mahasiswa anti-Amerika, termasuk demonstrasi 16 Azar di Universitas Teheran, yang menentang kunjungan Wakil Presiden AS saat itu, Richard Nixon. Tiga mahasiswa yang terbunuh dalam insiden tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi Barat. Meskipun menjelang Revolusi Islam garis pemikiran yang pro-Barat masih ada, jika revolusi tidak terjadi pada tahun 1357 (1979), Iran akan semakin terjerumus dalam ketergantungan terhadap kekuatan asing dan kehilangan semua kekayaan serta nilai-nilai nasionalnya.
Peran Imam Khomeini dalam Membangkitkan Kesadaran Nasional
Ayatullah Khamenei menyoroti bahwa keunggulan unik Imam Khomeini adalah kemampuannya dalam berkomunikasi langsung dengan rakyat secara luas, bukan hanya dengan kelompok atau partai tertentu. Imam Khomeini mengingatkan masyarakat akan potensi dan identitas budaya serta sejarah mereka, membangkitkan kesadaran, dan mendorong mereka untuk bangkit melawan dominasi asing. Hasilnya, rakyat Iran berdiri teguh dan tidak menyerah, yang akhirnya menggagalkan hegemoni kekuatan imperialis.
Tekanan Global dan Sikap Tegas Republik Islam
Imam Ali Khamenei juga menegaskan bahwa kekuatan arogan dunia tidak akan berhenti berusaha menekan dan merancang konspirasi terhadap Republik Islam. Negara-negara tersebut bersikeras bahwa kepentingan mereka harus didahulukan oleh seluruh dunia. Namun, Iran adalah satu-satunya negara yang secara tegas menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah mengorbankan kepentingan nasional demi pihak lain.
Menurut Ayatullah Khamenei, musuh—terutama melalui media dan teknologi komunikasi modern—berusaha mengembalikan dominasi Barat atas Iran. Mereka ingin menanamkan kembali mentalitas ketergantungan di kalangan pemuda Iran, sama seperti sebelum revolusi. Namun, cara terbaik untuk menghadapi taktik ini adalah dengan mempertahankan semangat keteguhan dan keberanian yang tercermin dalam pernyataan mahasiswa hari ini. Ia juga menekankan bahwa di tengah tekanan tersebut, terjadi peningkatan dalam kesadaran agama, moralitas, dan spiritualitas di kalangan masyarakat, dengan banyak pemikir Islam yang mampu menyampaikan konsep Islam dalam bahasa yang relevan dengan zaman modern.
Peran Mahasiswa dalam Produksi Konten dan Kesadaran Akademik
Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa universitas saat ini lebih maju dan lebih memahami realitas dibandingkan dengan masa sebelum Revolusi Islam, bahkan dibandingkan 20 tahun yang lalu. Beliau menolak propaganda yang menyebut mahasiswa Iran pasif dan tidak peduli terhadap isu-isu besar. Sebaliknya, mahasiswa kini lebih siap dan lebih memahami pentingnya berada di garis depan dalam melawan musuh.
Ia kembali menekankan pentingnya produksi konten, termasuk di media digital, dengan mengatakan bahwa mahasiswa, seperti guru, berperan sebagai pemberi peringatan dan penunjuk jalan. Oleh karena itu, mahasiswa harus aktif dalam menciptakan konten yang mencerahkan dan menguraikan berbagai isu dengan jelas.
Tantangan Internal dan Rekomendasi bagi Mahasiswa
Pemimpin Revolusi juga kembali menegaskan pentingnya fokus organisasi mahasiswa terhadap komunitas universitas. Menurutnya, mahasiswa di lingkungan akademik umumnya tidak memiliki sikap permusuhan dan terbuka terhadap pemikiran yang benar. Oleh karena itu, organisasi mahasiswa harus berusaha untuk menyebarkan gagasan yang sehat dan membangun di lingkungan universitas.
Ia juga merekomendasikan agar mahasiswa mengadakan diskusi mendalam mengenai isu-isu utama negara yang terkait dengan perkembangan revolusi dan masyarakat, dengan melibatkan pemikir yang terpercaya. Selain itu, mahasiswa harus berhati-hati agar tidak terpengaruh oleh berbagai analisis media yang dapat menyebabkan kebingungan dan keraguan.
Ayatullah Khamenei mengingatkan bahwa beberapa kritik yang diajukan mahasiswa terhadap pemerintah mungkin disebabkan oleh kurangnya informasi mengenai berbagai aspek kebijakan. Sebagai contoh, terkait dengan operasi Wa'd al-Sadiq 2, ia menjelaskan bahwa kritik terhadap waktu pelaksanaannya tidak berdasar karena para pejabat terkait memiliki kecintaan yang besar terhadap revolusi dan tidak boleh dianggap lalai atau tidak bertindak sesuai dengan tanggung jawab mereka.
Pemimpin Revolusi Islam menambahkan bahwa pihak lain membuat keputusan berdasarkan perhitungan, dan jika Anda berada di posisi mereka, Anda juga akan melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, daripada menuduh orang lain, sebaiknya dipertimbangkan bahwa dalam pengambilan keputusan telah dilakukan perhitungan yang benar.
Ia menjelaskan kerangka kritik yang benar dengan mengatakan bahwa mengkritik itu tidak masalah, tetapi kritik berbeda dengan tuduhan. Mengajukan pertanyaan dan menyampaikan keraguan itu boleh, asalkan memberikan kesempatan untuk menjawab. Namun, terkadang ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, dan dalam kasus seperti itu, sebaiknya keraguan tidak diungkapkan serta dugaan-dugaan tidak dianggap sebagai fakta yang pasti.
Ayatullah Khamenei juga menekankan pentingnya menghindari perpecahan, menanamkan keputusasaan, menciptakan polarisasi, menumbuhkan kecurigaan terhadap para pengambil keputusan, dan menggambarkan situasi seolah-olah tidak ada jalan keluar. Ia menegaskan bahwa terkadang kritik disampaikan dengan cara yang membuat pendengar merasa bahwa tidak ada solusi, yang pada akhirnya menyebabkan keputusasaan di masyarakat. Sikap seperti ini harus benar-benar dihindari.
Sebagai contoh, Imam Ali Khamenei menanggapi kritik yang berkembang di media sosial mengenai mengapa ia merasa senang dengan disetujuinya semua menteri kabinet, padahal tidak semua dari mereka memenuhi standar yang diinginkan. Ia menegaskan bahwa perhatian utama mahasiswa seharusnya pada isu-isu besar negara, bukan hal-hal semacam ini. Menurutnya, keberhasilan semua menteri dalam mendapatkan persetujuan dan terbentuknya pemerintahan secara utuh pada waktu yang tepat adalah hal yang positif. Sebab, jika seorang menteri tidak mendapatkan persetujuan, kementerian tersebut akan lama kosong, dan dampaknya jauh lebih buruk dibandingkan dengan keberadaan seorang menteri yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan.
Di bagian akhir pidatonya, Pemimpin Revolusi membahas beberapa poin mengenai negosiasi dengan Amerika Serikat.
Pertama, ia menyebut pernyataan Presiden AS tentang kesiapan untuk bernegosiasi dan mencapai kesepakatan dengan Iran, serta pengiriman surat kepada Iran, sebagai upaya untuk menipu opini publik global. Ia mengatakan bahwa surat tersebut belum sampai ke tangannya, tetapi tujuan Amerika adalah menyebarkan kebohongan seolah-olah Iran yang menolak perundingan, padahal justru Amerika yang mengingkari hasil negosiasi sebelumnya. "Bagaimana mungkin kita bernegosiasi lagi dengan seseorang yang kita tahu tidak akan menepati hasil perundingan?" ujarnya.
Kedua, ia menanggapi pernyataan di sebuah surat kabar yang menyebutkan bahwa "kurangnya kepercayaan antara dua pihak yang berada dalam konflik tidak seharusnya menghalangi negosiasi." Ia menilai pernyataan itu keliru karena dalam negosiasi, kepercayaan terhadap komitmen lawan bicara sangat penting. Jika tidak ada keyakinan bahwa hasil perundingan akan dipatuhi, maka negosiasi menjadi sia-sia.
Ketiga, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa tujuan utama Iran dalam negosiasi adalah menghapus sanksi, tetapi sanksi yang berkepanjangan secara bertahap menjadi kurang efektif. Bahkan, beberapa pejabat Amerika sendiri mengakui bahwa semakin lama sanksi berlangsung, semakin berkurang dampaknya. Selain itu, negara yang dikenai sanksi akan menemukan cara untuk mengatasinya, dan Iran juga telah menemukan berbagai cara untuk menghindari dampak sanksi.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar masalah ekonomi Iran bukan hanya akibat sanksi, tetapi juga disebabkan oleh kelalaian internal dalam menangani berbagai aspek ekonomi.
Dalam menanggapi pernyataan AS yang menyatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan Iran memperoleh senjata nuklir, Pemimpin Revolusi menegaskan, "Jika kita memang ingin membuat senjata nuklir, Amerika tidak akan bisa menghentikan kita. Namun, alasan kita tidak memiliki dan tidak mengejar senjata nuklir adalah karena kita sendiri, berdasarkan prinsip dan keyakinan tertentu, tidak menginginkannya."
Imam Ali Khamenei juga menilai ancaman militer Amerika sebagai tindakan yang tidak rasional dan menegaskan bahwa ancaman terhadap Iran bukanlah sesuatu yang sepihak. Iran mampu memberikan respons setimpal, dan jika pihak lain melakukan tindakan bodoh, mereka justru akan lebih banyak mengalami kerugian. "Kami tidak menginginkan perang, karena perang itu bukan hal yang baik. Namun, jika ada yang bertindak melawan kami, kami akan membalas dengan tegas," tambahnya.
Ayatullah Khamenei menggambarkan Amerika sebagai negara yang sedang mengalami kemunduran di berbagai bidang, termasuk ekonomi, kebijakan luar negeri, kebijakan dalam negeri, serta sosial. Menurutnya, Amerika tidak lagi memiliki kekuatan seperti 20-30 tahun yang lalu.
Mengenai dorongan sebagian pihak di dalam negeri yang terus mempertanyakan mengapa Iran tidak bernegosiasi dengan AS, ia menegaskan bahwa negosiasi dengan pemerintahan Amerika saat ini tidak hanya tidak akan menghilangkan sanksi, tetapi justru akan memperburuk keadaan. Negosiasi semacam itu hanya akan memperkuat tekanan dan membuka peluang bagi tuntutan serta keserakahan baru dari pihak Amerika.
Sebagai penutup, Imam Ali Khamenei menyatakan bahwa perlawanan di Palestina dan Lebanon semakin kuat dan bersemangat dibandingkan sebelumnya. Ia menegaskan bahwa para pejabat Iran, termasuk pemerintah dan presiden, memiliki kesepakatan dalam mendukung penuh perjuangan rakyat Palestina dan Lebanon. "Insya Allah, rakyat Iran di masa depan, sebagaimana di masa lalu, akan tetap menjadi pembawa panji perlawanan dalam menghadapi arogansi dan kezaliman," pungkasnya.
Pada awal pertemuan ini, enam perwakilan organisasi mahasiswa dari seluruh negeri menyampaikan pandangan mereka mengenai isu-isu utama yang berkaitan dengan mahasiswa dan negara. Mereka adalah:
- Mujtaba Mangeli dari Kantor Penguatan Persatuan (Daftar Tahkim Wahdat)
- Mohammad Asadian dari Perhimpunan Islam Mahasiswa Universitas Azad
- Mahdi Bazmeh dari Basij Mahasiswa
- Mohammad Reza Marimi dari Gerakan Keadilan
- Abulfazl Mohammadi dari Masyarakat Islam Mahasiswa
- Reyhaneh Hassanqorban, dari kelompok jihad mahasiswa
Dalam pertemuan ini, mereka mengangkat berbagai isu penting, termasuk:
- Pentingnya konsensus di antara berbagai aliran dan pandangan politik dalam mendukung kebijakan utama negara serta gagasan tentang "Iran yang kuat".
- Perlunya menghindari pengulangan pengalaman pahit dekade terakhir, yaitu mengaitkan masalah negara dengan negosiasi dengan Amerika Serikat.
- Fokus pemerintah terhadap kepentingan kaum mustadh'afin (masyarakat miskin) dan pekerja dalam kebijakan ekonomi dan kesejahteraan.
- Kebutuhan akan jawaban yang meyakinkan bagi opini publik guna mengatasi dikotomi sosial yang ada.
- Kritik terhadap penyebaran pesimisme dan kelemahan di lingkungan kampus.
- Kritik terhadap kenaikan biaya kuliah di fakultas kedokteran Universitas Azad Islam.
- Pentingnya privatisasi yang nyata dan menghindari persaingan pemerintah dengan sektor swasta.
- Perlunya pengadilan untuk mencegah politisasi kasus hukum.
- Kemudahan dalam aktivitas kelompok jihad mahasiswa sebagai poros solidaritas mahasiswa dalam melayani masyarakat yang kurang mampu.
- Penyederhanaan regulasi untuk meningkatkan partisipasi politik dan ekonomi masyarakat.
- Pembaruan dalam partai politik agar ide-ide baru dalam pemerintahan dapat berkembang.
- Pentingnya peningkatan efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya negara.
Itulah beberapa poin dan usulan yang disampaikan oleh perwakilan organisasi mahasiswa dalam pertemuan mereka dengan Pemimpin Revolusi Islam pada sore hari ini.[AA]